Bermain Suap, OC Kaligis Gunakan Sandi “Buku”

Pengacara kondang OC Kaligis menjalani sidang dakwaan kasus suap hakim Pengadilan Tata Usaha Negara Medan, di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (31/8Pengacara kondang OC Kaligis menjalani sidang dakwaan kasus suap hakim Pengadilan Tata Usaha Negara Medan, di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (31/8) | CNN

Intanews, Jakarta - Otto Cornelis (OC) Kaligis didakwa menyuap hakim Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan. Melakukan proses transaksi suap, OC Kaligis sering menyebut kata “buku” saat berbincang dengan anak buahnya, M Yagari Bahastara atau Geri.

OC Kaligis menyebut kode buku sebanyak dua kali, yaitu pada 5 Juli dan 6 Juli 2015. Pada Minggu 5 Juli, Kaligis menyuruh Geri untuk mengecek apakah buku sudah dibawa oleh anak buah lainnya yang bernama Indah. Waktu itu, tiga orang bakal bertolak ke Medan memberikan duit yang disinyalir uang suap kepada hakim PTUN.

“Cek Indah, bawa tidak bukunya. Percuma kalau tidak bawa,” ujar Kaligis kepada Geri di Terminal 2 F Bandara Soekarno Hatta, di Jakarta, waktu itu, sebagaimana melansir berkas dakwaan.

Buku yang dimaksud merupakan buku karangan Kaligis yang bakal diberikan pada hakim. Dalam dua buah buku, masing-masing berisi amplop putih yang di dalamnya ada uang sebesar 5.000 dolar AS.

Setibanya di Medan, Kaligis menyuruh Geri untuk bertemu hakim Dermawan Ginting dan Amir Fauzi di gedung PTUN Medan. Sedangkan OC Kaligis dan Indah hanya duduk di dalam mobil menanti Geri. Proses transaksi pun berjalan. “Ini ada titipan dari Pak OC Kaligis,” ujar Geri pada para hakim. Hakim pun menerima.

Esok harinya, pada 6 Juli 2015, Kaligis kembali menanyakan buku dan amplop. “Kemarin dia (hakim) bilang apa? Kau kasih buku, dia terima?” ujar Kaligis bertanya kepada Geri. ”Iya dia terima,” jawab Geri.

Transaksi suap ketika itu adalah transkasi yang kedua. Sementara transaksi pertama, OC Kaligis memberikan langsung uang kepada para hakim setelah konsultasi pengajuan gugatan kepada Kejaksaan Tinggi atas penyelidikan korupsi dana bantuan sosial di Pemerintah Provinsi Sumatera Utama.

“Sekitar bulan April 2015, terdakwa (Kaligis) bersama Geri dan Indah menemui Syamsir Yusfan (panitera) dan Tripeni Irianto (hakim) untuk konsultasi gugatan. Setelah konsultasi, terdakwa memberikan amplop berisi Sin$5.000 kepada Tripeni Irianto. Selanjutnya menemui Syamsir dan memberi uang US$ 1.000,” ungkap tim jaksa yang diketuai Yudi Kristiana di Pengadilan Tipikor.

Lalu, pada 1 Juli 2015, Sekretaris dan Kepala Bagian Administrasi dari Kantor OC Kaligis & Assciates, Yenny Octorina Misnan, melaporkan penerimaan uang Rp50 juta dan 30 ribu dolar AS yang diterima dari istri Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho, Evy Susanti.

Setelah itu, Kaligis meminta Yenny untuk membungkusnya dalam tiga amplop yang berbeda dan diisi dengan masing-masing 3.000 dolar AS, dan menyiapkan dua amplop yang diisi dengan masing-masing 1.000 dolar AS. Esok harinya, Kaligis menemui Tripeni untuk menyerahkan amplop putih, akan tetapi hakim itu menolak.

Halaman 1 2